Thefadhil's Blog

Just another WordPress.com weblog

KONDISI MANGROVE DI WILAYAH PESISIR CIREBON

KONDISI MANGROVE DI WILAYAH PESISIR CIREBON

Potensi sumberdaya wilayah pesisir dan laut yang terdapat di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat besar seharusnya mampu memberikan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun ketimpangan cara pandang antara wilayah daratan dan wilayah pesisir membuat fokus pembangunan lebih dikonsentrasikan pada wilayah darat, sehingga potensi wilayah pesisir dan laut tidak diwujudkan dan didayagunakan secara optimal serta permasalahan-permasalahan di wilayah pesisir seperti abrasi, sedimentasi, dan erosi tidak tertangani dengan tuntas. Hal ini tercermin dalam berbagai kebijakan pembangunan kelautan di Indonesia.

Hutan mangrove di sepanjang pantai Cirebon mulai rusak oleh ulah manusia. Padahal tanaman tersebut berfungsi menahan abrasi air laut. Abrasi merupakan salah satu jenis permasalahan di wilayah pesisir. Abrasi adalah proses perubahan fisik pantai yang disebabkan oleh gelombang dan arus laut. Abrasi yang terjadi di Pantai Grogol Kabupaten Cirebon dipengaruhi oleh faktor oceanografi Laut Jawa, sedangkan abrasi yang terjadi Pantai Bojongsalawe Kabupaten Ciamis dipengaruhi oleh faktor oceanografi Samudera Hindia. Abrasi yang terjadi di kedua tempat ini telah berpengaruh pada komponen-komponen sistem pembangunan wilayah pesisir dan laut, yaitu ekonomi, sosial, budaya, dan hukum; kewilayahan; ekosistem; pengelolan Daerah Aliran Sungai (DAS); dan oceanografi dan estuari.

FAUNA EKOSISTEM MANGROVE

Fauna yang terdapat di ekosistem mangrove merupakan perpaduan antara fauna ekosistem terestrial, peralihan dan perairan.  Fauna terestrial kebanyakan hidup di pohon mangrove sedangkan fauna peralihan dan perairan hidup di batang, akar mangrove dan kolom air. Beberapa fauna yang umum dijumpai di ekosistem mangrove dijelaskan sebagai berikut:

  • Mamalia
  • Reptil dan Amphibi
  • Burung
  • Crustacea dan Moluska
  • Ikan
  • Kepiting

Fauna- fauna tersebut tentunya memiliki kasus dimakan dan memakan. Berikut adalah skema rantai makanan pada ekosistem pesisir :

Secara umum di perairan terdapat dua tipe rantai makanan yaitu rantai makanan langsung dan rantai makanan detritus. Di ekosistem mangrove rantai makanan yang ada untuk biota perairan adalah rantai makanan detritus. Detritus diperoleh dari guguran daun mangrove yang jatuh ke perairan kemudian mengalami penguraian dan berubah menjadi partikel kecil yang dilakukan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur.
Keberhasilan dari pengaturan menggabungkan dari mangrove berupa sumber penghasil kayu dan bukan kayu, bergantung dari pemahaman kepada; satu parameter dari ekologi dan budaya untuk pengelolaan kawasan hutan (produksi primer) dan yang kedua secara biologi dimana produksi primer dari hutan mangrove merupakan sumber makanan bagi organisme air (produksi sekunder). Pemahaman aturan tersebut merupakan kunci dalam memelihara keseimbangan spesies yang merupakan bagian dari ekosistem yang penting.

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: